source : gambar
Bahagianya bagi seseorang saat menyambut pergantian tahun dimana hampir semua orang bersuka cita dengan segala renungan atau intropeksi diri selama setahun berlalu dan mengatur rencana dan strategi untuk meraih resolusinya dalam satu tahun kedepan agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Berbagai cara untuk merayakan malam pergantian tahun ada yang berkumpul dengan keluarga atau teman-teman hingga konvoi kejalan sambil bakar petasan. Akan tetapi banyak pula kebahagiaan itu menjadi petaka, seperti halnya yang sering terjadi di setiap malam pergantian tahun yang mana banyak anak muda berfoya-foya dan terlena hingga lupa diri menikmati malam pergantian tahun dengan dengan berpesta minuman alkohol dan tak jarang mereka menjadi biang keributan dengan tawuran dengan pemuda lainnya.
Tradisi pergantian tahun juga identik dengan pesta petasan, entah apa hubungannya antara pergantian tahun dengan petasan hingga banyak orang rela menghambur-hamburkan uang untuk sekedar membeli petasan. “Bermain air basah, bermain api terbakar”, seperti peribahasa tersebut bahwa segalanya ada resikonya dan tidak jarang banyak yang terkena imbasnya saat mereka bermain petasan. Seperti yang banyak diberitakan di tiap akhir tahun selalu ada korban dari insiden petasan hingga salah satu organnya di amputasi.
 
Ya! tradisi dan malapetaka ini sudah sering terjadi sejak dulu kala yang memiliki sejarah di jaman yahudi dan pastinya tradisi seperti ini bukanlah untuk kita sebagai umat muslim yang berpikir meski tahun berganti dan waktu kan tetap berputar yang menandakan usia kita kian berkurang serta merenung dan berdzikir serta mencoba memperbaiki diri terutama dalam hal peribadatan agar lebih baik lagi.